Sabtu, 09 September 2017 | By: Unknown

Kata Mereka, Mengenai Definisi Menulis pada Tanduk Rusa


Tepat tanggal, 12 Juli 2017. KMO Batch 10 sudah dimulai. Kali ini, saya kembali menjadi Penangung Jawab di dalam kelas/grup kecil 10_A5. 
Cukup banyak memang peserta yang mengikutinya. Dan memang seperti biasa, pertemuan pertama, semua peserta Nampak sekali antusias dan semangat tinggi untuk belajar bersama. Namun, bukan berarti dengan seiringanya kelas berjalan, hingga menjelang akhir bukan berarti mereka loyo. Tentu …, tentu tidak.
Selasa, 05 September 2017 | By: Unknown

Bunglon

Heran saya sama orang tersebut. 
Ketika gurunya berlagak A. 
Maka ia akan menjadi A. 
Ketika gurunya berhaluan lain dan menjadi B. 
Maka ia akan menjadi B. Dan seterusnya.

Aku yang Tak Menahu



Aku tidak sedang menciptakan musuh. Namun musuh tercipta dengan sendirinya karena apa yang telah dilihat dan dirasa pada apa yang kulakukan kepadanya.
Hati sudah berhati-hati untuk memerikan rasa kepadanya, tetapi apa dikata? Tetap saja, hati dikoyak olehnya. Didiamkan, malah menjadi. Didiamkan malah harga diri diinjak dan terasa sekali harga diri tergadaikan. Aku tahu, bertindak sama halnya dengan menujukkan kelemahan dan tidak akan menyelesaikan segalanya. Namun, apa yang akan terjadi bila tidak ditindak.

Tak Sebagaimana

Tak sebagaimana kata orang, mengenai dirimu.
Senin, 24 Juli 2017 | By: Unknown

Antara Diam dan Juga Sebab



Aku hanya terdiam, seperti kambing dungu yang terdiam sedang menikmati suara gemerisik rerumputan panjang hijau. Melihatnya lekat-lekat hingga menanti rerumputan itu masak dan siap untuk disantap. Sesekali dalam penantian itu, memakan rerumpun garing yang sudah tak layak untuk dimakan, karena jarak umput dan tanah begitu dekat hingga berkali-kali tersedak.
Sabtu, 01 Juli 2017 | By: Unknown

Ketika Hujan




genting dan juga helai daun beserta ranting, basah
mengucurkan liter air yang terjatuh dari awan
selimut-selimut tebentang dari lipatannya
semacam ia terbangun saat musim hujan
dan tertidur lama saat musim kemarau
Sabtu, 24 Juni 2017 | By: Unknown

Ukhuwah di Ujung Hayat



(Oleh: Andrew A. Navara & Diis Yosri)


Aku ingat betul ketika ibu harus meniggalkan rumah, mengajakku bersama Laudya.Waktu itu terjadi perdebatan yang hebat di dalam kamar mereka. Tangis ibu pecah di dalam sana. Sedangkan bapakmenjatuhkan guci hingga menjadi berkeping-keping. Selepas menjatuhkan guci, bapak mendadak hening dan langsung duduk di kursi. Aku melihat bapak termenung dan tak mendegarkan tangis pecah ibu yang begitu keras.
Dalam diamnya, aku melihat bapak lebih memilih acuh terhadap tangisan ibu dan memilih mengisap sebatang rokok miliknya.
Kamis, 08 Juni 2017 | By: Unknown

Negeri 1980 - Part 6


(Oleh: Andrew A. Navara)

Listrik di zaman dulu sangat minim. Belajar pun dengan menggunakan cahaya yang sangat minim. Lampu ublik (lampu dinding) begitulah kami orang Jawa menyebutnya. Lampu yang berbahan bakar minyak tanah dan sumbu yang ada di ujungnya sebagai pencahayaannya. Kalaupun tak ada lampu ublik, lilin pun akan jadi sebagai penggantinya.
Perjuangan yang amat sangat, terlebih berada di dalam pelosok waktu itu. Membaca kadang tak jelas dengan pencahayaan minim. Mata terkadang juga sakit. Bahkan beberapa temanku pun ada yang sampai membaca bukunya dengan mendekatkan matanya yang amat sangat dekat meskipun saat pagi dan siang.
Kamis, 01 Juni 2017 | By: Unknown

Pubertas



(Oleh: Andrew A. Navara & Dannsaurus )


Merah ranum bibirnya sedari tadi kuperhatikan. Gaya pakaiannya pun juga kulihat setiap jengkalnya. Mataku tak hentinya melihat, sampai aku lupa bagaimana caranya mengedipkan mata. Cara jalannya pun berbeda. Lebih anggun dan tak sembrono seperti saat ia masih duduk di bangku SMP dulu. Mungkin saja dia telah sadar bahwa dirinya sekarang adalah perempuan yang telah sepantasnya menjaga penampilan.
Perempuan itu sekarang sedang duduk tak jauh dari hadapanku. Di kantin inilah dia dan teman-temannya membentuk perkumpulan semacam geng. Tampaknya mereka sedang berbincang santai bersama teman-tamannya sembari menyantap semangkuk bakso yang sudah menjadi kesukannya. Bibirnya sangat terlihat sensual saat dia melahap bakso pesanannya. Sesekali ia menyeruput es teh yang selalu menjadi pendamping baksonya. Beberapa kali ia tampak mengusap mukanya yang telah basah oleh keringat akibat sambal yang terlalu banyak dia tambahkan. Aku menebaknya begitu, sebab hanya kuah bakso miliknya saja yang berwarna orange, warna yang berbeda dari perempuan di sampingnya itu.
Selasa, 30 Mei 2017 | By: Unknown

Negeri 1980 - Part 5

(Oleh: Andrew A. Navara)


Kau boleh saja, mengatakan, ‘Orang Kuno…, Ndesoo…, Nggak Modern…, Terlalu Berisik.’ Silahkan saja. Aku tak apa-apa. Mungkin orang terdahulumu pun juga tidak apa-apa kepada apa yang kau buat candaan itu. Candaan yang terkadang buat kami merasa tersindir, tanpa sepengetahuan kalian. Bukan membawa perasaan…. Melainkan ini mengenai perasaan. Tidak ada yang bisa mengerti perasaan orang lain, terkecuali orang itu sendiri dan sang Pencipta.