1993
Dia tampak
berbeda dari kemarin dan kemarinnya lagi. Pewarna bibir merah marun digorekan
segaris mengikuti kulit bibirnya, sediki goresan namun tak terlalu mencolok.
Polesan bedak tipis pun juga tak begitu mencolok. Sepertinya ia pandai
berdandan. Kudekati dia dan sedikit memuji. Seperti biasa. Ia senyum sedikit
sembari menyenggol bahuku dan sesekali ia melingkarkan tangganya ke pinggulnya
dan meletakkan kepalanya tiga detik di bahuku. Akubtahu betul. Selalu tiga
detik. Aku menghitungnya selalu setiap ia meletakkan kepalanya ke bahuku.

