Tampilkan postingan dengan label Negeri 1980. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Negeri 1980. Tampilkan semua postingan
Kamis, 08 Juni 2017 | By: Unknown

Negeri 1980 - Part 6


(Oleh: Andrew A. Navara)

Listrik di zaman dulu sangat minim. Belajar pun dengan menggunakan cahaya yang sangat minim. Lampu ublik (lampu dinding) begitulah kami orang Jawa menyebutnya. Lampu yang berbahan bakar minyak tanah dan sumbu yang ada di ujungnya sebagai pencahayaannya. Kalaupun tak ada lampu ublik, lilin pun akan jadi sebagai penggantinya.
Perjuangan yang amat sangat, terlebih berada di dalam pelosok waktu itu. Membaca kadang tak jelas dengan pencahayaan minim. Mata terkadang juga sakit. Bahkan beberapa temanku pun ada yang sampai membaca bukunya dengan mendekatkan matanya yang amat sangat dekat meskipun saat pagi dan siang.
Selasa, 30 Mei 2017 | By: Unknown

Negeri 1980 - Part 5

(Oleh: Andrew A. Navara)


Kau boleh saja, mengatakan, ‘Orang Kuno…, Ndesoo…, Nggak Modern…, Terlalu Berisik.’ Silahkan saja. Aku tak apa-apa. Mungkin orang terdahulumu pun juga tidak apa-apa kepada apa yang kau buat candaan itu. Candaan yang terkadang buat kami merasa tersindir, tanpa sepengetahuan kalian. Bukan membawa perasaan…. Melainkan ini mengenai perasaan. Tidak ada yang bisa mengerti perasaan orang lain, terkecuali orang itu sendiri dan sang Pencipta. 

Negeri 1980 - Part 4

(Oleh: Andrew A. Navara)


Bukan… ibu bukan sadis kepada anaknya dengan melakukan hal seperti itu kepada anaknya. Melaikan dengan melalui cara itulah ibu bisa memasukkan jamu ke dalam anaknya agar tidak anaknya tidak sakit.
Kadang beliau berkata kepada tetangga sebelah saat Sri sakit. “Lebih baik aku yang sakit mbak yuuu, ketimbang anakku yang kecil, Sri itu sakit.” Meskipun Sri kecil yang dulu itu terkadang memukul-mukul ibu saat memaksanya untuk minum jamu.

Negeri 1980 - Part 3

(Oleh: Andrew A. Navara)


Terlebih dahulu motor yang masih menggunakan motor bermesin dua tak. Kau tahu apa itu mesin dua tak? Aku rasa kau akan menertawakan bila kau mengetahuinya. Mungkin kau akan bilang, ‘Orang Kuno…, Ndesoo…, Nggak Modern…, Terlalu Berisik.’ Memekakkan telinga. Bahkan asapnya akan mebuat orang naik darah, khususnya yang naik darah orang-orang di zaman seperti sekarang ini.
Rabu, 14 Desember 2016 | By: Unknown

Negeri 1980 - Part 2



Bila enggan menonton televisi. Banyak cara yang bisa dilakukan di zaman itu. Melalui siaran di radio. Radio selalu ada disetiap rumah, walapun tidak semuanya. Radio zaman dulu masih menggunakan bataery ukuran tanggung dan ada pula yang berukuran battery besar. Ahh.. sialnya…, sekarang tidak ada lagi ukuran battery tanggung. Bagaimana tidak sial? Aku memiliki jam dinding di rumah yang hanya bisa nyala bilamana diberi battery tanggung di dalamnya.
Jumat, 09 September 2016 | By: Unknown

Negeri 1980 - Part 1

(Oleh: Andrew A. Navara)


Negeriku sungguh elok nian. Hamparan hijau rumput dan juga dedaunanan hijaunya. Tanahnya pun khas sekali aromanya, setelah air hujan menggenanginya dan kemudian meresap perlahan di dalamnya.
Udara segar pun menyeruak khas pula saat kalimah surat pengantar pertanda detik-detik yang segera memasuki shubuh. Lalu lalang kendaraan bermotor pun tak cukup banyak, masih banyak yang mengenakan sepeda kayuh. Dominasi kendaraan pribadi pun juga tak sebanyak seperti yang kau lihat saat ini.