(Oleh: Andrew A. Navara)
Listrik di zaman dulu sangat minim. Belajar pun dengan menggunakan cahaya yang sangat minim. Lampu ublik (lampu dinding) begitulah kami orang Jawa menyebutnya. Lampu yang berbahan bakar minyak tanah dan sumbu yang ada di ujungnya sebagai pencahayaannya. Kalaupun tak ada lampu ublik, lilin pun akan jadi sebagai penggantinya.
Perjuangan
yang amat sangat, terlebih berada di dalam pelosok waktu itu. Membaca kadang
tak jelas dengan pencahayaan minim. Mata terkadang juga sakit. Bahkan beberapa
temanku pun ada yang sampai membaca bukunya dengan mendekatkan matanya yang
amat sangat dekat meskipun saat pagi dan siang.

