Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Rabu, 13 September 2017 | By: Unknown

Senja di Ujung Dewata



(Oleh: Andrew A. Navara & TR. Lubis)


"Maaf, aku harus pergi."
"Bisa kan ditunda sampai besok?"
"Tiketnya sudah dibelikan adik, jadi besok aku harus sudah ada di Bandara."
"Kenapa sih, selalu tiba-tiba? Kenapa selalu nggak pernah cerita?"
"Maafkan aku."
Sabtu, 24 Juni 2017 | By: Unknown

Ukhuwah di Ujung Hayat



(Oleh: Andrew A. Navara & Diis Yosri)


Aku ingat betul ketika ibu harus meniggalkan rumah, mengajakku bersama Laudya.Waktu itu terjadi perdebatan yang hebat di dalam kamar mereka. Tangis ibu pecah di dalam sana. Sedangkan bapakmenjatuhkan guci hingga menjadi berkeping-keping. Selepas menjatuhkan guci, bapak mendadak hening dan langsung duduk di kursi. Aku melihat bapak termenung dan tak mendegarkan tangis pecah ibu yang begitu keras.
Dalam diamnya, aku melihat bapak lebih memilih acuh terhadap tangisan ibu dan memilih mengisap sebatang rokok miliknya.
Kamis, 01 Juni 2017 | By: Unknown

Pubertas



(Oleh: Andrew A. Navara & Dannsaurus )


Merah ranum bibirnya sedari tadi kuperhatikan. Gaya pakaiannya pun juga kulihat setiap jengkalnya. Mataku tak hentinya melihat, sampai aku lupa bagaimana caranya mengedipkan mata. Cara jalannya pun berbeda. Lebih anggun dan tak sembrono seperti saat ia masih duduk di bangku SMP dulu. Mungkin saja dia telah sadar bahwa dirinya sekarang adalah perempuan yang telah sepantasnya menjaga penampilan.
Perempuan itu sekarang sedang duduk tak jauh dari hadapanku. Di kantin inilah dia dan teman-temannya membentuk perkumpulan semacam geng. Tampaknya mereka sedang berbincang santai bersama teman-tamannya sembari menyantap semangkuk bakso yang sudah menjadi kesukannya. Bibirnya sangat terlihat sensual saat dia melahap bakso pesanannya. Sesekali ia menyeruput es teh yang selalu menjadi pendamping baksonya. Beberapa kali ia tampak mengusap mukanya yang telah basah oleh keringat akibat sambal yang terlalu banyak dia tambahkan. Aku menebaknya begitu, sebab hanya kuah bakso miliknya saja yang berwarna orange, warna yang berbeda dari perempuan di sampingnya itu.
Minggu, 09 Agustus 2015 | By: Unknown

Menulis Adalah Misteri

(Oleh: Andrew A. Navara)


Menulis adalah suatu keindahan…. Menulis adalah suatu jejak…. Menulis adalah suatu perjalanan…. Menulis adalah suatu pelepasan emosi yang dirasa sudah bisa dilepaskan di dalam benak yang membelit, dan setelah kita menumpahkannya di atas secarik kertas dengan kata yang paling jujur akan merasakan suatu kepuasan, kepuasan yang meringakan sedikit beban…. Menulis adalah suatu kepuasan…. Atau.., menulis adalah suatu tanggung jawab yang sudah kita selesaikan bahkan mungkin suatu tanggung jawab yang akan kita selesaikan untuk esok, dua hari, dua minggu, dua bulan atau mungkin.., dua tahun.Dan masih banyak lagi jawaban yang ketika kita diberi suatu pertanyaan “Apa tujuanmu untuk menulis?”
Jumat, 03 Juli 2015 | By: Unknown

Kutunggu Hujanmu


(Oleh: Andrew A. Navara)
Ketika musim hujan kumerindukan kemarau, sebab di sana ku selalu dapat bertemu dengannya tak seperti ketika hujan. Waktu selalu batal ketika kami akan bertemu setelah malam kuserius berdoa agar esok tak hujan hingga tak dapat terkatup mataku.
Ketika musim kemarau kumerindukan hujan, sebab dalam hujan selalu tersimpan banyak alur cerita yang terdapat di sana, sambil medengarkan butir tetes hujan dalam jumlah milyaran dengan nada yang beraturan namun indah.
Minggu, 26 Januari 2014 | By: Unknown

Sebaris Doa Untuknya

(Oleh: Andrew A. Navara)


Sidoarjo, 02 Desember 2013

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Tak terasa waktu begitu cepat sekali. Baru saja seperti kemarin aku merasakan tahun baru yang begitu ramai, dengan ledakan yang membisingkan telinga namun memberikan warna yang indah di atas langit sana. Semuanya beradu suara dan beradu menunjukkakn keelokan warnanya. Dan kini hampir sudah berada diujung akhir tahun dua ribu tiga belas ini yang penuh dengan warna, suka dan begitu pun dengan duka yang medalam.