Rabu, 25 Mei 2016 | By: Unknown

Sosmed yang Menjadi Candu



Sosmed.. aku tak cukup memgenalnya waktu itu. Namun ia berusaha membujukku. Membangkitkan rasa akan ingin tahuku akan dirinya. 1-2 kali aku dibuatnya takjub. 3-4 kali aku dibuatnya suka akan dirinya, sampai-sampai tugas utama berantakan pun juga kalang kabut.

Sepatu Hitam



Sepatu besar berwarna hitam mengehentak keras di daratan, hingga menimbulkan bunyi yang keras. Suaranya senada. Bukan hanya senada saja kurasa. Melainkan juga berirama. Irama yang sama. Irama yang tak mendahului dan juga tak mengakhiri.
Aku tak bisa bayangkan, apa jadinya bila ada yang mendahuli atau mengakhirinya, hinga membuat nadanya berantakan.

Ya..., Aku Tersenyum Saja



Aku tersenyum. Kadang geram juga. Namun aku beruntung. Sebab aku masih diberi kesadaran, bahwa ilmuku belumlah tinggi, belum banyak, masih kurang, belum sempurna, seperti yang lain.
Aku lihat. Disekelilingku tadi. Seorang gadis dan laki-laki yang kurasa masih remaja dan berumur belasan tahun atau bisa saja hampir habis masa tahun belasan tahun menjadi puluhan dengan jumlah angka di depannya yang berangka dua.
Kamis, 19 Mei 2016 | By: Unknown

Tak Mengerti


Sudah banyak cerita yang kudengar
Tak sama, seperti kata yang lainnya
Ada yang berkata A, pun juga ada yang berkata B
Parahnya semua berganti dengan sangat cepat
Tak kurang dari dua puluh empat jam
Kamis, 24 Maret 2016 | By: Unknown

Waktu dan Penyesalan??


Ada lagi…
Ini mengenai cerita kawan saya mengenai waktu.

"Salah bila orang patuh pada waktunya jam 17.00.. tepat jam 17.00?" kata seseorang yang dekat denganya. Kata orang tersebut, cara pengaturan waktu teman saya salah dan keliru besar. Laluuu, apakah seseorang yang berkata demikian sudah benar dengan waktunya (bukan berarti waktu teman saya benar)? Mendadak lupakah orang tersebut atas waktu teman saya yang ketika itu tepat memenuhi pintanya untuk menemui seseorang di suatu bak kenamaan di kotanya.. yang hanya telat 5-10 menit , dan datang 5-10 menit sebelum waktu janji seharusnya? lucu memang.

World In Comedy - Part 6 : Kita Memang Beda. Namun,

(Oleh: Andrew A. Navara)


Pukul 16.55 WIB, 23 Maret 2016.
Seseorang laki-laki yang duduk di sebelah saya berbicara tentang SABAR. Sampai ia membawa teori-teorinya. Mempertahankan apa yang menjadi pendapatnya.
Ada sesuatu yang menggelitik saya. Katanya sabar, sabar seperti si A dan si B. Ia lupa… saya dan orang A adalah orang berbeda dengan kepribadian yang berbeda pula.
Selasa, 23 Februari 2016 | By: Unknown

World In Comedy - Part 5 : Barang Kali Ia Lupa

(Oleh: Andrew A. Navara)


Macam Komunis!!
Memperlakukan manusia tak sewajarnya.

Mencaci hingga tak peduli hati yang dicaci menjadi pedih. Meminta tak pernah menahu aka waktu. Memanggil dan Berkomunikasi mengabaikan tatakrama yang dahulu pernah diajarkan selama 12 tahun lamanya, saat umurnya belumlah puluhan..
Suka mencari masalah, bilamana tak ada masalah, terlebih ketika ia tak suka.
Mempersulit kawannya, bila kawan itu mendapatkan sesuatu yang LEBIH darinya.
Mempersulit bawahannya, bila melawan dan tak tunduk padanya.
Meminta disegani dan dihormati, namun TAK MAHU menyegani dan menghormati.
Binatang peliharaan pun tak akan tunduk bilamana ia dibuat tak enak oleh majikannya.
Kamis, 18 Februari 2016 | By: Unknown

Tentangnya - Part 1: 1993



1993
Dia tampak berbeda dari kemarin dan kemarinnya lagi. Pewarna bibir merah marun digorekan segaris mengikuti kulit bibirnya, sediki goresan namun tak terlalu mencolok. Polesan bedak tipis pun juga tak begitu mencolok. Sepertinya ia pandai berdandan. Kudekati dia dan sedikit memuji. Seperti biasa. Ia senyum sedikit sembari menyenggol bahuku dan sesekali ia melingkarkan tangganya ke pinggulnya dan meletakkan kepalanya tiga detik di bahuku. Akubtahu betul. Selalu tiga detik. Aku menghitungnya selalu setiap ia meletakkan kepalanya ke bahuku.

Tentangnya - Part 2: 1991



1991
Awal aku bertemu dengannya ketika masih berpakaian putih biru. Mungkin bisa dibilang itu adalah cinta pada pandang pertama. Risih adalah ungkapan pertama aku merasakan rasa itu. Tidur tak nyenyak. Rasanya segera pagi dan pagi meskipun itu adalahbhari dimana terdapat mata pelajaran yang tak mengenakan dengan guru paling keras saat mengajarkanya. Guru laki-laki yang kerap membawa tongkat berukuran sedang yang terbuat dari penjalin. Banyak yang tak menginkan hari itu termasuk aku. Tetapi... sejak rasa yang kerap membuatku risih saat malam itu. Aku tak memperdulikan guru keras itu, aku hanya ingin dapat menatap wajah Kinan. Walaupun pada saat itu aku belum sedekat seminggu yang lalu. Lucu... aku mengucapnya 'tak sedekat seminggu yang lalu saat ini!!