Bila
enggan menonton televisi. Banyak cara yang bisa dilakukan di zaman itu. Melalui
siaran di radio. Radio selalu ada disetiap rumah, walapun tidak semuanya. Radio
zaman dulu masih menggunakan bataery ukuran tanggung dan ada pula yang
berukuran battery besar. Ahh.. sialnya…, sekarang tidak ada lagi ukuran battery
tanggung. Bagaimana tidak sial? Aku memiliki jam dinding di rumah yang hanya
bisa nyala bilamana diberi battery tanggung di dalamnya.
Terkadang demi cinta kita rela mengorbankan segalanya, kita rela untuk
dibodohi dengan aneka kata-kata yang menyejukan dan melambungkan
angan-angan. Padahal kita sadar bahwa cinta tersebut adalah palsu dan
penuh kebohongan belaka. Kenapa kita sampai tidak sadar? Karena cinta
yang kita pilih adalah cinta hitam yang menutupi pikiran dan hati kita.
Demi cinta mengapa banyak orang
yang menjadi lemah hatinya, menurun harga dirinya, menghancurkan
seluruh kehidupannya hanya untuk sebuah cinta yang telah tercemar oleh
khianat. Maka janganlah terjerumus oleh rayuan dan buaian kebahagiaan
cinta, sebab tidak ada yang dapat menolong diri kita pada saat kita
terbenam di dalam lumpur noda hitam selain kekuatan dan kesadaran hati
kita sendiri, bahwa cinta yang sedang kita perankan adalah “Luka Di
Ujung Cinta”.
Judul Buku : LUKA DI UJUNG CINTA Penulis : Deejay Supriyanto dan Andrew A Navara Penerbit : SBMB Media Kreatif (Sbmb Kreatif) Harga : Rp. 45.000,-
Negeriku sungguh
elok nian. Hamparan hijau rumput dan juga dedaunanan hijaunya. Tanahnya pun
khas sekali aromanya, setelah air hujan menggenanginya dan kemudian meresap
perlahan di dalamnya.
Udara segar pun
menyeruak khas pula saat kalimah surat pengantar pertanda detik-detik yang
segera memasuki shubuh. Lalu lalang kendaraan bermotor pun tak cukup banyak,
masih banyak yang mengenakan sepeda kayuh. Dominasi kendaraan pribadi pun juga
tak sebanyak seperti yang kau lihat saat ini.
Hebat nian orang-orang di negeriku. Mereka berkata
membantu mewujudkan impian disaat ia belum meraih kejayaannya. Jangankan untuk
meraih kejayaan, saat ia menaiki sedikit tanda kesuksesan saja ia meninggalkan
enggan tuk membantu.. terlebih dengan tutur bahasa yang berbeda. Bahasa yang
lebih keras tak selembut ketika ia masih berada di bawah.