Zaman Teknologi! Bukan
Lagi Jamannya Nulis!! (Oleh: Andrew A. Navara)
Menulis??
Mungkin akan banyak definisi dari sebuah kata “Menulis.”
Menulis adalah
suatu keindahan…. Menulis adalah suatu jejak…. Menulis adalah suatu
perjalanan…. Menulis adalah suatu pelepasan emosi yang dirasa sudah bisa
dilepaskan di dalam benak yang membelit, dan setelah kita menumpahkannya di
atas secarik kertas dengan kata yang paling jujur akan merasakan suatu
kepuasan, kepuasan yang meringakan sedikit beban…. Menulis adalah suatu
kepuasan…. Atau.., menulis adalah suatu tanggung jawab yang sudah kita
selesaikan bahkan mungkin suatu tanggung jawab yang akan kita selesaikan untuk
esok, dua hari, dua minggu, dua bulan atau mungkin.., dua tahun.Dan masih
banyak lagi jawaban yang ketika kita diberi suatu pertanyaan “Apa tujuanmu
untuk menulis?”
Aku terseyum melihatnya
yang begitu pandai berkilah ketika aku berdiri disampingnya disaat ia duduk dengan
seorang yang penting baginya, mungkin bagiku juga penting.
Melihat Geraknya.. aku
nyaris tertawa, karena gerak itu bak kebakaran jenggot. Ia berusaha menutupi
kesahannya yang sudah jelas TIDAK ADA LAGI YANG MENJADI KAMBING HITAM-nya saat
itu!!
Menulis adalah
suatu keindahan…. Menulis adalah suatu jejak…. Menulis adalah suatu perjalanan….
Menulis adalah suatu pelepasan emosi yang dirasa sudah bisa dilepaskan di
dalam benak yang membelit, dan setelah kita menumpahkannya di atas secarik
kertas dengan kata yang paling jujur akan merasakan suatu kepuasan, kepuasan
yang meringakan sedikit beban…. Menulis adalah suatu kepuasan…. Atau.., menulis
adalah suatu tanggung jawab yang sudah kita selesaikan bahkan mungkin suatu
tanggung jawab yang akan kita selesaikan untuk esok, dua hari, dua minggu, dua
bulan atau mungkin.., dua tahun.Dan masih banyak lagi jawaban yang ketika kita
diberi suatu pertanyaan “Apa tujuanmu untuk menulis?”
Aku suka rembulan yang tersenyum miring di pucuk terdekat
tiang menara masjid itu. Letaknya terlihat begitu dekat dari pucuk menara
berkilat cahaya dengan rembulan buatan yang tertancap sedang memangku bintang
dengan ukuran yang sama besarnya.
Tak
pernah bosan aku menatapnya. Senyum tipis yang dapat kulemparkan saat menatap
senyum miring rembulan.
Ketika musim hujan kumerindukan kemarau, sebab di sana
ku selalu dapat bertemu dengannya tak seperti ketika hujan. Waktu selalu batal
ketika kami akan bertemu setelah malam kuserius berdoa agar esok tak hujan
hingga tak dapat terkatup mataku.
Ketika musim kemarau kumerindukan hujan, sebab dalam
hujan selalu tersimpan banyak alur cerita yang terdapat di sana, sambil
medengarkan butir tetes hujan dalam jumlah milyaran dengan nada yang beraturan
namun indah.