Beberapa
minggu lalu, terdapat kasus plagiat yang di sosial media. Tak main-main, jumlah
karya yang diplagiat olehnya itu sudahlah mencapai 24 karya terhitung pada saat
itu yang sudah ditemukan. Semoga cukup 24 saja. Tidak lebih dari itu.
Miris?
Ya sangat miris sekali. Bagaimana tidak? Bayangkan saja, ketika kita sudah
capek-capek menulis, capek-capek menggali ide, dan lainnya-lainnya ...,
kemudian karya kita dicomot hanya dalam waktu kurang dari semenit dan sisa yang
lebih dari semenit itu bisa jadi digunakan untuk mengatur tata letak yang apik
dan lain-lainnya yang sudah diambilnya itu.
Terdapat
Pro dan Kontra. Jelas banyak yang kontra, karena mereka yang kontra itu
sangatlah tidak setuju sekali. Apalagi mereka-mereka itu adalah para penulis
yang sudahlah memiliki banyak karya dan banyak pengalaman di dunia kepenulisan.
Ada
pula yang Pro. Lantaran beberapa mereka merasa kasihan hanya karena pernah
berkenalan dekat -tentu ada yang sangat dekat juga merasa shock dan juga ada
yang menjadi kontra pula.
Mereka
kasihan pada psikis yang didapatkannya itu saat ini atas apa yang ia perbuat
-ya, setiap apa yang kita perbuat maka itulah yang akan kita dapat, bukan?
Sayang,
seribu saya. Di sini saya tidak akan berpihak kepada siapapun. Baik menjadi
golongan Pro ataupun Kontra. Sebab pihak tersangka, merasakan kesedihan
mendalam dan ditakutkan akan mengambil hal-hal yang tidak diinginkan. Satu
pihaknya lagi, akan tersakiti karena didukung lantaran perbuatan itu hanya
karena pernah mengenal dekat.
Mengapa
saya berada di tengah-tengah saja? Tidak berpihak pada keduanya? Sebab saya
pernah membaca suatu kisah Nabi Muhammad dan seorang putrinya Fatimah. Di saat
itu Fatimh telah dituduh mencuri. Dan tak disangka, Nabi Muhammad, tidaklah
membela anak perempuan yang sangat disayang oleh beliau. Melainkan menegakkan
hukum dalam agamanya, islam.
Mungkin,
kita juga pernah mendengar akan kisah tersebut, bukan?
“Dan
pencuri, laki-laki dan wanita, potonglah tangan keduanya sebagai balasan atas
perbuatan mereka dan hukuman dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi
Maha Bijaksana. ” Al-Maidah: 38.
Nabi
bersabda, “Demi Allah yang jiwaku ada di tanganNya, seandainya Fatimah putri
Muhammad mencuri niscaya aku memotong tangannya.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari
dan Muslim.
Bukankah
begitu seharusnya? Jalankan sesuai hukum. Bukankah kita tersakiti ketika hukum
tajam ke atas, tumpul ke bawah hanya karena yang bermateri dan yang berkenal
dekat dengannya itu kemudian ditumpulkan proses penghukumannya?
Bukankah
lebih baik, jalankan hukuman untuknya. Daaannn, ketika si tersangka yang sudah
benar-benar diketahui akan kesalahannya itu sudah mendapatkan hukuman atas apa
yang sudah diperbuat, dan tidak akan diulanginya kembali ..., maka, setidaknya
kita memanusiakannya dia lagi setelah menerima hukuman yang memang pantas
diberikan kepadanya itu dan ia menyesalinya kemudian tidak akan mengulanginya.
Kita tentu akan marah, jika saja yang melanggar hukum kemudian hanya memberikan
maaf saja kemudian selesai perkara, apalagi jika saja salah satu pihak yang
misalnya saja tidak membiarkannya berjalan dan tidak berhenti di setelah
permintaan maaf, ya itu hanya MISALKAN saja.
Jalankan
prosesnya, ketika kedua belah pihak tidak mengiyakan kata sepakat untuk
berdamai dan tidak akan diulangi kembali. Hukumlah ...,
dan ketika hukuman itu selesai ditunaikan dengan adil dan sebagaimana mestinya, maka kembalikan dia menjadi manusia-manusia yang seperti dulunya yang ketika sebelum menerima hukuman itu.
dan ketika hukuman itu selesai ditunaikan dengan adil dan sebagaimana mestinya, maka kembalikan dia menjadi manusia-manusia yang seperti dulunya yang ketika sebelum menerima hukuman itu.
Manusia
yang memiliki tanggung jawab, manusia yang memiliki kewajiban atas diri ..
keluarga .. orang lain dan lainnya, serta manusia yang juga memiliki hak atas
dirinya itu .. hak yang memang wajib didapatkankan dan diberikannya sebagaimana
manusia lainnya.
-Andrew A. Navara-
-Andrew A. Navara-
0 komentar:
Posting Komentar